Sahabat Diginote yang poweruf, apa kabar bahagia Anda hari ini?
Sampailah kita pada bahasan puasa finansial yang terakhir, yaitu: Menahan Gengsi, Menyegerakan Prestasi

Menahan Gengsi
Gengsi adalah salah satu perwujudan ego. Setiap orang ingin mendapat pengakuan, pujian dan penghargaan. Setiap orang juga malu kalau tampil miskin atau terlihat bodoh. Itu normal, alamiah. Tidak perlu disangkal. Hanya perlu dikendalikan agar perwujudan ego tersebut tidak mengundang bencana finansial Anda.

Gengsi yang tidak didahului dengan prestasi finansial atau pendapatan yang besar hanya akan menampilkan harga diri palsu. Terlihat kaya, namun hanya polesan atau pencitraan. Penghargaan yang diterima pun pada hakikatnya adalah penghargaan semu.

Gengsi tidak dilarang. Keinginan ego untuk mendapatkan pujian dan penghargaan itu wajar saja, asal itu semua merupakan sebuah konsekuensi atau efek bukan tujuan. Pesannya sederhana: Tunda gengsi sebelum berprestasi.

Jangan punya gengsi sebelum mampu mengukir prestasi. Bagaimana caranya mencetak prestasi? Berikut ini jawabannya.

Menyegerakan Prestasi
Prestasi adalah harga diri asli. Bukan palsu. Harga diri sejati. Boleh Anda menerima pujian, penghargaan sebagai buah dari prestasi yang Anda capai bukan pencitraan atau polesan.

Darimana prestasi berasal? Prestasi adalah buah dari kualitas diri yang terus ditingkatkan. Kualitas diri dibentuk dari pembangunan karakter agung yang dipadu dengan pengembangan kompetensi unggul. Karakter yang kuat (jujur, disiplin, bertanggung jawab) adalah pondasi bagi bangunan kompetensi (keahlian profesi).

Berikut ini saya rekomendasikan 5 langkah untuk mengukir prestasi:
a. Prestasi = selalu lebih baik dari sebelumnya
Jadikan hari ini selalu lebih baik dari kemarin. Teruslah tumbuh secara mental (semakin kreatif), emosional (semakin antusias), spiritual (semakin shalih), finansial (semakin kaya).

b. Kalahkan capaian Anda selalu
Miliki goal tahunan, bulanan dan mingguan lalu capailah. Jika gagal, pelajaran apa yang bisa Anda petik lalu capailah dengan lebih baik lagi.

c. Kalahkan ego untuk merasa superior (humble)
Kalahkan ego merasa bisa, merasa paling pandai, merasa paling kaya, paling hebat dengan kerendah hatian: bisa merasa. Bisa merasa kekurangan diri untuk disempurnakan. Bisa merasakan kehebatan orang lain untuk diapresiasi.

d. Temukan kehebatan orang lain (emphaty)
Tidak ada prestasi sekecil apa pun yang merupakan hasil tunggal dari upaya satu orang. Selalu ada orang lain yang terlibat. Oleh karena itu penting sekali mengembangankan kemampuan untuk memahami orang lain atau berempati sehingga setiap orang dengan sukarela bekerjasama dengan Anda.

e. Continuous learning & take action
Kehidupan terus menghadirkan kesulitan dan tantangan baru yang terus meningkat. Tanpa dibarengi dengan upgrade pengetahuan dan keterampilan, maka prestasi sekecil apa pun tidak bisa Anda capai. Oleh karena itu Anda wajib terus belajar. Belajar secara kontinyu untuk terus memperbesar kapasitas solusi Anda sehingga akan terjadi kondisi dimana:

Kapasitas Solusi > Masalah = Hidup mudah

Sebaliknya, jika Anda berhenti belajar karena malas atau sudah merasa sukses, kondisi yang terjadi:
Kapasitas Solusi < Masalah = Hidup sulit

Jadi, mulai sekarang tunjukkan dulu prestasi, gengsi yang sehat akan mengikuti dengan sendirinya. Berani melakukannya?

Salam Powerful,
Edi Susanto


Edi Susanto

Edi Susanto adalah seorang penulis & pembicara motivasi yang berfokus pada peningkatan kinerja dan produktivitas, beliau Direktur Bimbingan Belajar Antusias dan Narasumber talkshow keuangan MNC Trijaya FM Semarang, beliau Penulis 15 buku pengembangan diri, Pembicara seminar di berbagai perusahaan, instansi dan kampus.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *