Kenali 3 Penyebab Quarter Life Crisis, Berikut yang Milenial Harus Lakukan!

Keraguan terhadap karir, ketakutan tentang masa depan, hubungan yang mengkhawatirkan dan kecemasan pada perbandingan sosial yang bahkan tidak memiliki tolak ukur. Quarter life Crisis, hal tersebutlah yang biasanya terjadi pada mereka yang berada pada rentang usia 20-30 tahun. Ketika akan memasuki usia 20 tahunan masing-masing individu akan cenderung membicarakan tentang rencana hangout, jalan-jalan bersama teman, menikmati kehidupan sehari-hari dengan penuh senda gurau. Namun ditahun-tahun berikutnya, pandangan akan hidup perlahan berubah, kita akan mulai memikirkan tentang bagaimana caranya agar bebas finansial, tak lagi menjadi beban untuk orang tua, pertanyaan tentang kapan akan menikah, rencana seputar kemampuan membeli rumah serta rencana karir masa depan apa yang akan mereka jalani.

Menurut Dr. Lara Fielding, seorang psikolog klinis dan penulis buku “Mastering Adulthood: Go Beyond Adulting to Become an Emotional Grown Up”  adapun hal-hal yang menyebabkan terjadinya Quarter life crisis pada Milenial setidaknya ada 3 faktor yakni : milenial memiliki lebih banyak pilihan, lebih banyak akses dan lebih banyak dukungan (tetapi kurang mandiri).

  1. Milenial memiliki banyak pilihan

Generasi milenial adalah generasi yang paling terdidik dalam sejarah, oleh karenanya hambatan untuk masuk ke banyak bidang dan pekerjaan telah diturunkan sehingga lintas bidang pendidikan dapat melakukan pekerjaan bidang lainnya dengan keyakinan bahwa segala sesuatu mungkin terjadi. Dan ketika ‘segalanya mungkin’, maka ada lebih banyak tekanan, tirani pilihan, dan hanya rasa kewalahan yang kita alami.

  1. Milenial memiliki banyak akses

Internet dan media sosial seolah menambah masalah dengan begitu banyak akses ke kehidupan orang lain yang dikuratori dengan sempurna. Kecenderungan untuk melakukan perbandingan sosial dengan tidak adanya ukuran obyektif keberhasilan hanya memperburuk kecemasan.

  1. Memiliki lebih banyak dukungan

Sebagian besar orang tua di awal tahun 90-an meyakini melakukan segala hal  dan dengan berbagai dukungan yang terbaik untuk anak-anak mereka akan membantu anak-anak mereka untuk berkembang. Namun, penelitian yang saat ini sedang berkembang menemukan bahwa ketika gaya pengasuhan mengaburkan batas antara dukungan dan keterlibatan yang berlebihan maka dampaknya pada milenial yakni akan menimbulkan lebih banyak kecemasan, depresi, dan harga diri yang lebih rendah pada diri mereka. Terkadang, niat dukungan orang tua yang terbaik dapat menghambat peluang anak untuk tumbuh melalui kegagalan.

Ketiga hal tersebut, jika hanya dibiarkan berlarut maka akan menimbulkan dampak yang lebih besar lagi seperti memicu gangguan anxiety (kecemasan berlebihan) dan masalah lainnya. Pada poin dukungan orang tua juga tidak serta merta menyalahkan orang tua,  namun lebih tepatnya melukiskan gambaran yang lebih jelas tentang mengapa begitu banyak dari milenial merasakan perasaan gelisah kolektif dicampur dengan rasa bosan, perasaan tidak aman, keraguan, dan ketidakpastian, khususnya yang terkait dengan karier, hubungan, dan keuangan. Lalu kemudian apa yang harus kita lakukan?

Dr. Fielding  dalam bukunya menyampaikan “Kunci untuk menavigasi transisi kehidupan dengan sukses adalah memastikan bahwa kita menggunakan keterampilan yang benar untuk faktor eksternal dan internal. Karir, hubungan, dan keuangan adalah faktor eksternal. Pengambilan keputusan seputar tujuan dalam domain ini harus dibuat dari posisi nilai seseorang. Pertanyaan yang harus diajukan adalah, Orang seperti apa yang saya inginkan dalam bidang kehidupan saya ini? Apa yang ingin saya perjuangkan? Kemudian buat komitmen sesuai dengan nilai-nilai itu.”  Menurutnya, setidaknya melibatkan proses tiga langkah sederhana berikut : Validasi, periksa, dan ubah.

  1. Validasi

Pertama, validasikan emosimu dengan memberi label. Langkah sederhana ini memiliki dampak neurologis yang luar biasa pada regulasi emosi. Setelah Anda memberi label emosi, berbaik hatilah pada diri sendiri. Katakan pada diri sendiri tidak apa-apa untuk merasakan ketidaknyamanan. Emosi (bahkan yang paling tidak nyaman sekalipun) adalah bagian normal dari menjadi manusia.

“Emosi dapat dianggap seperti anak kecil yang kita bawa bersama kita. Jika kamu mengabaikan mereka terlalu lama, mereka akhirnya akan mulai berteriak untuk mendapatkan perhatianmu. ”

  1. Periksa

Kedua, periksa pikiranmu untuk akurasi. Jangkar perhatian Anda di saat ini. Disiplinkan pikiran Anda dari turun ke lubang perenungan dan kekhawatiran dan tanyakan pada diri kita ‘apakah pikiranku 100 persen benar? ‘

  1. Ubah

Ketiga, ubah tindakanmu. Tindakan adalah satu-satunya hal dalam kendalimu. Buat komitmen untuk berdamai dengan dirimu, dan gunakan dirimu untuk memberi tahu pikiranmu. Lakukan meditasi, olahraga, penuhi nutrisi, dan tidur cukup  untuk mengingatkan tentang betapa berharganya dirimu dan penting untuk menciptakan tubuh yang tangguh.  Ini dapat mengatasi rasa takut, keraguan, dan kecemasan yang dialami oleh banyak dari kita.

Pada akhirnya, kuncinya adalah memutuskan apakah definisi  ‘kesuksesan’ yang ingin kita perjuangkan adalah berdasarkan pada apa yang kita hargai dan damba-dambakan, bukan pada apa yang orang tua atau teman kita hargai  dan tahu bahwa perasaan ketidakpastian dan keraguan adalah sangat normal. Hentikan self-talk negatif  terkait quarter life crisis kemudian ambil napas dalam-dalam dan hembuskan tekanan yang tidak perlu untuk memiliki rencana hidup yang sempurna. Karena sebenarnya, tidak ada di antara kita yang menemukannya (pun bahkan jika kita pandai berpura-pura melakukannya). Teruntuk siapapun yang sedang mengalami quarter life crisis, Semangatt 🙂 Setiap diri kita sangatlah berharga dan Dunia menunggu aksi baik kita!

Ilustrasi photo : Freepik

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *