Ilmu pengetahuan, dapat diperoleh dengan mendekap dan menuliskannya, untuk mengikatnya sebaiknya kita menulis. Wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad SAW pun sarat dengan perintah membaca, mengagungkanNya, dan selain itu juga mengajar manusia dengan perantaraan kalam (baca dan tulis). Oleh karena itu Imam Ali bin Abi Thalib menegaskannya agar kita mengikat ilmu dengan menuliskannya. Maka menulis adalah kegiataan hidup yang amat bernilai tinggi dan mulia.
Sebab dengan menulis hidup kita akan berarti, dengan menulis hidup kita tidak tiada pernah berhenti penuh arti. Maka menuliskan kebermaknaan hidup ini adalah utama sebelum kita pergi ke alam sana. Sebab hidup harus memiliki arti atau nilai. Sekali berarti sudah itu mati seperti kata Chairil Anwar.

diginote.ID

Namun demikian menulis bukanlah pekerjaan semudah membalik telapak tangan, sebab menulis membutuhkan latihan dengan semangat dan kerja keras. Hanya dengan semangatlah semua menjadi mungkin. Seperti kata Muhammad Fauzil Adhim,”Gunung pun bisa gemetar dan takluk kalau semangat itu besar di dada. Tetapi kalau sibuk berangan-angan, sementara hati sangat ciut, seekor kecoak pun bisa menakutkan.”

Dengan semangat itulah mari kita mencoba menulis, apa yang bisa kita tulis. Mengutip apa yang bias kita kutip, dan merekan apa yang bisa kita rekam.. lewat Diginote.ID


Berkarya walaupun sedikit…


Liang Gie, pernah berujar, ”Semua akan sirna, hilang kecuali yang ditulis,”—mengantarkan kita kepada arti pentingnya menulis agar karya-karya kita masih bisa dinikmati dan dikaji sepeninggal kita sebagaimana karya-karya tokoh semisal Bung Hatta dan Ki Hajar Dewantara. Selain itu menurutnya dengan menulis—di media massa misalnya—akan terjadi diskusi publik yang luas. “Ibarat bola salju, akan terus membesar,” katanya.

Sehubungan dengan media elektronik yang tidak akan membatasi orang untuk berkreasi, dalam menyuarakan ide-ide dan cita-citanya, maka tidak lain-kaum muda- harus menyambutnya dengan bisnis content, Dginote.ID akan ikut serta mengisi kehidupan dengan menulis artikel. Memilih untuk berada di depan komputer berjam-jam, menyusun huruf demi huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, dan seterusnya. Sementara orang lainnya hidup santai sajalah.

langkah pertama dalam konteks menulis artikel, inilah kali pertama kesulitan kita untuk menemukan alasan yang paling emosional mengapa menulis artikel, inilah bagian dari motivasi.

Dengan begitu dengan segala keterbatasan pun akan lahir karya yang fenomenal dan dikenal. Contohnya karya-karya Tan Malaka, yang banyak lahir dari gubug reot, pensil dan kertas buram seadanya. Harus terus berpindah (mengungsi), sampai ikut merasakan dinginnya laintai penjara, tapi lahirlah karyanya yang berjudul “Dari Penjara ke Penjara”. Demikian terjadi pada Kuntowijoyo (alm.), karyanya “Mantra Penjinak Ular” lahir saat ia mengidap penyakit meningo encephalitis yang mengakibatkan gangguan saraf motorik dan memori otak. Bahkan seorang Harun Yahya harus berhadapan dengan siksa, penjara, fitnah, cibiran, bahkan ancaman pembunuhan . sekarang kami ingin membagi emosi ini kepada sobat pembaca semuanya..

…sekian tahun menulis, istirahat, baca ulang, kecewa, menulis lagi, buang sini, tambal itu, robek sini, tambal sana, masuk laci, baca ulang, masuk lagi, diubah lagi sampai putus asa dan seterusnya….

Adalah Henry Thorpe, representatif teknis untuk British Industries Ltd., di sela-sela tugasnya ia mengumpulkan data-data tentang kekuatan pasukan Jerman. Berbagai informasi detil dikumpulkannya dari perpustakaan Berlin dan membaca surat kabar dari seluruh Jerman. Informasi yang dikumpulkannya terkesan biasa-biasa saja dan sepele tapi menjadi arsip terlengkap tentang angkatan perang Jerman, sampai Jerman mengira Inggris mempunyai lebih seratus agen bawah tanah selama 1935 sampai 1939 yang mampu mendapatkan informasi tersebut. Informasi ini berguna bagi tentara Inggris dalam menggempur tentara Jerman.

“Menjadi penulis adalah menjadi intelijen, menjadi seorang yang cerdas. Seorang yang mampu mencari data, membuat analisis-analisis, sekaligus mampu melakukan upaya-upaya antisipasi, deteksi, memperingatkan, lazimnya intelijen,”. Intinya mempunyai sikap keingintahuan (curiousity) yang tinggi sehingga akan menjadi kreatif, karena seorang penulis harus kreatif. Kreatif dimaksud menurut Edward de Bono mempunyai ciri peka terhadap masalah (problem sensitivity), kelancaran ide (idea fluency), kelenturan pemikiran (idea flexibility), dan keaslian pemikiran (idea originality).

Mari membiakkan otot menulis. Pertama, dengan membaca. “Membaca hendaknya mencakup kemampuan yang semakin tinggi untuk memahami dan menghargai berbagai macam karangan,” menurut Sapardi Djoko Damono. Kedua, resensi buku. Ketiga, rekam bahagia dan rekam derita (kliping). Keempat, mengikuti mailinglist. Kelima, jalan-jalan menyapa kehidupan. Keenam, mengikat ide-ide brilian (dalam buku harian). Ketujuh, berolahraga.. kagak nyambung kan..
Begituhhh.. cukup..


Mari menulis.. Diginote.ID adalah sebuah persembahan kepada mereka yang cinta menulis dan berkarya karenanya …


1 Comment

5 Persiapan Untuk Menjadi Penulis Profesional - DigiNote ID · 15/04/2020 at 9:52 am

[…] Artikel terkait : Ikatlah ilmu itu dengan menulisnya (Ali bin Abi Thalib) […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *