Kegagalan dapat terjadi kapan saja. Kita dapat menikmati kegagalan atau mengutukinya, ya terserah kita menyikapinya bagaimana.

Yang pasti, output dari sikap yang kita berikan dalam menghadapi kegagalan tersebut akan berbeda.

Saat kita memberikan sikap yang positif, ya output-nya akan positif. Begitu pula sebaliknya.

Cara berdamai dengan kegagalan yang menerpa dan menerjang hidup kita adalah dengan memahami bahwa:

1 – Semua Orang Pernah Gagal, Kok

Iya, nggak usah merasa menjadi orang paling merana sedunia. Pahamkan dalam hati bahwa tidak ada orang di dunia yang selalu sukses dan tidak pernah gagal.

Bahkan, orang-orang hebat sekalipun pernah merasakan pahitnya kegagalan dalam kehidupan mereka.

Jangan menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang tabu dan hanya terjadi pada orang-orang yang tidak layak hidup dalam masyarakat.

Jangan sampai kita berpikir bahwa orang-orang yang sukses itu nggak pernah sama sekali mengalami kegagalan.

Salah besar itu.

Memiliki pikiran seperti itu hanya akan menyabotase diri kita dari penerimaan akan kegagalan.

Dengan kata lain, kita jadi nggak bisa berdamai dengan diri sendiri. Hal itu berbahaya karena kita jadi nggak bisa mensyukuri setiap jengkal episode kehidupan.

2. Nggak Usah Baperan

Saya pernah mendapatkan wejangan dari mentor saya begini, “Semua hal dalam hidup ini akan berlalu. Saat kamu mendapatkan kegembiraan, itu pun akan berlalu. Saat kamu mendapatkan luka dan kesedihan, hal itu juga akan berlalu. Bersikaplah biasa saja. Semua memiliki waktunya masing-masing. Tak usah terlalu tenggelam dalam duka, dan tak usah pula terlalu riang dalam gembira.”

Hanya karena kamu gagal dan belum berhasil, bukan berarti kamu adalah orang yang layak dicerca dan tidak akan pernah berhasil sama sekali.

Jangan sampai kegagalan mengambil alih pikiran dan emosimu sehingga pusat perhatianmu lebih tertuju pada kegagalan daripada mencari solusi.

Terlalu lama menikmati lubang kegagalan justru akan menutup pandanganmu dari kesempatan untuk meraih kesuksesan yang dapat kita raih jika bangkit kembali.

 3. Adaptasi, Dong!

Sudah selayaknya ketika kita menemui kegagalan, rasa marah akan membuncah. Frustrasi, bahkan bisa saja mengarah ke depresi.

Wajar.

Akan tetapi, yang tidak wajar adalah berlarut-larut.

Kita harus mulai beradaptasi.

Coba tanyakan kepada diri kita sendiri: kok bisa gagal kenapa, ya? Cari tahu sebab-sebabnya. Lambat laun kita akan memaklumi bahwa segala kegagalan tersebut adalah tersebab kebodohan dan kealpaan kita sendiri.

4. Ambil Sudut Pandang Baru

Cara termudah untuk memaknai sebuah kegagalan adalah mengambil sudut pandang yang baru dari kegagalan tersebut.

Jika kita melihat kegagaln adalah kutukan tercela yang harus dihindari atau penyakit mematikan yang terus-menerus meneror hidup kita, maka gantilah pola pikir tersebut.

Kegagalan bukan seperti itu.

Jika kesuksesan ibarat perjalanan, kegagalan adalah salah satu jalan yang harus kita lewati.

Ya emang rutenya begitu. Nggak ada hidup yang lurus-lurus saja. Malah, kalau lurus-lurus saja, jadinya nggak seru.

Bagaimanapun juga, salah satu pelajaran penting dari kesuksesan hanya dapat ditemui dalam kegagalan.

Banyak hal yang bisa kita pelajari di sana. Banyak banget pelajaran yang bisa kita ikhtisarkan dan dijadikan pegangan hidup ke depan.

Karena itu, jangan sampai sudut pandang negatif lebih mendominasi pikiran dan hati ketimbang sudut pandang positif. Mencari sudut pandang positif memang tidak mudah, namun hal tersebut lebih layak dicoba daripada berkubang dalam perasaan bersalah karena kegagalan.

Ketika kegagalan telah dilewati dan keberhasilan telah diraih, kegagalan akan menjadi kisah menarik dalam kehidupan. Kita akan dapat menceritakan kisah tersebut kepada orang lain sebagai inspirasi dalam menggapai kesuksesan mereka.

Jadi, ketika kita merasakan kegagalan, bertahanlah dalam menghadapinya. Yakinlah bahwa masa-masa gelap tersebut akan usai dan kita akan mendapatkan kisah menarik darinya.

Jadi, yuk berdamai dengan kegagalan.



Fachmy Casofa

Fachmy Casofa merupakan penulis +35 buku sejak tahun 2009 dan sudah memabntu lebih dari 15 Tokoh untuk membuat buku mereka, seperti BJ Habibie, Natali Ardianto, Salafuddin AS (dai nasional), Saptuari sugiharto, Gamal Albinsaid, Erik Tenhave & Dedy Courbuzier (Millenial Power), Wahyudi Anggoro Hadi (lurah terbaik 2017), Andika DJ (tokoh beanding syariah), Arief Budiman (tokoh branding dan ICC), Ilman Akbar (traveloka), DSB

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *