Apa Itu Menulis Draf (Drafting)?

Tulisan ini merupakan seri kedua dari serial Alur Standar Penulisan. Dalam alur standar penulisan ada lima fase yang harus dilalui oleh seorang penulis: prewriting-drafting-editing-revisi-publishing.

Sebelumnya, saya sudah menuliskan tentang Prewriting. Silakan disimak pada postingan berikut: Apa Itu Prewriting?

Menulis draf (drafting) berarti memindahkan ide kamu ke atas kertas. Sangat mungkin seorang penulis menghasilkan lebih dari satu draf tulisan. Sebagai draf atau buram, penulis memang tidak mengejar kesempurnaan saat menghasilkannya.

Apa sih draf?

Draf adalah versi awal sebuah tulisan. Karena namanya adalah draf, jadinya ya tidak perlu sempurna. Hanya perlu ditulis sampai selesai. Itu saja.

Proses menulis draf juga melibatkan penyusunan gagasan yang telah dikumpulkan dalam langkah perencanaan. Selain itu, gagasan-gagasan yang ditulis juga harus selalu berfokus pada ide-ide yang berhubungan erat dengan judul tulisannya.

Pada waktu menyusun draf, penulis tidak perlu khawatir atau menghiraukan mekanisme tulisannya, seperti susunan, ketepatan pemilihan kata, tata bahasa, ejaan, dan bahkan tidak perlu khawatir tentang apa yang orang lain akan katakan atau pikirkan.

Sewaktu gagasan mengalir, penulis harus terus mengalirkan dan menuangkan gagasannya dalam tulisan. Tak usah menghiraukan apa yang akan orang lain katakan atau pikirkan. Wong namanya juga masih draf.

Draf atau buram adalah kreasi pertama dari ide. Bagaimana cara terbaik menulis draf?

1. Menulislah secara bebas

Tuliskan apa yang kamu pikirkan dan rasakan langsung tanpa terbelenggu oleh aturan-aturan penulisan. Kamu dilarang keras menulis draf sambil mengedit.

2. Bayangkan pembaca sasaran

Menulislah ibarat mengobrol dengan seseorang atau sekelompok orang yang kamu tuju.

Membayangkan pembaca sasaran akan membuat Anda menggunakan ungkapan-ungkapan yang sangat pribadi.

3. Ikuti outline

Menulislah berdasarkan outline yang sudah kamu dibuat. Di dalam outline tersebut kamu harus membuat permulaan tulisan, bagian isi, dan penutup tulisan.

4. Menahan diri

Terus menulis dan hendaknya tidak dibaca sebelum bagian yang ditulis selesai. Tahanlah diri kamu untuk tidak mengedit tulisan sebelum saatnya tiba.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *